Dirut RSUD Sidoarjo Ditegur Kemenkes

22

Jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Sidoarjo, semakin menurun. Data per Kamis (15/10) hanya ada 65 orang yang dirawat di RSUD milik Pemkab Sidoarjo. Rinciannya, 36 orang positif Covid-19 dan 19 orang suspect yang masih isolasi mandiri menunggu hasil pasti tes swab PCR.

Dirut RSUD Sidoarjo, dr Atok Irawan SpP, mengutarakan akibat ada isu rumah sakit menggelembungkan jumlah pasien Covid-19, pihaknya sempat mendapatkan teguran, baik dari Gubernur Jatim dan Kemenkes. Maupun pihak lain yang juga banyak menanyakannya.

“Dari mana rumah sakit menggelembungkan jumlah pasien Covid-19, tidak ada itu, data itu sangat tendesius,” komentar dr Atok Irawan SpP, kemarin.

Dirinya juga sempat memberi data jumlah pasien Covid-19 di RS rujukan Covid lainnya di Kabupaten Sidoarjo, per 15 Oktober, kemarin. Di antaranya di RS Siti Fatimah ada 6 pasien (3 positif, 2 suspect, 1 suspect luar Sidoarjo).

Di RS Anwar Medika 5 pasien (4 positif, 1 suspect), RS HM. Mawardi 17 pasien (14 positif, 2 suspect, 1 probable), dan RSI Siti Hajar ada 63 pasien (62 positif dari Sidoarjo dan 1 dari luar Sidoarjo).

Laporan kondisi pasien Covid-19, baik yang ada di RSUD maupun di 11 RS rujukan pasien Covid-19, tiap hari diupdate pada sejumlah aplikasi. Misalnya ke sistim informasi rumah sakit (SIR) online milik Kemenkes, juga ke Dinkes lewat e-mail, aplikasi all record, juga dengan Covid Jatim.

Dikatakannya, data pasien Covid-19 yang disampaikan lewat SIR online, misalnya, kata dr Atok, itu termasuk data yang valid. Sebab, kebenarannya dicek oleh pihak BPJS, karena terkait klaim atas pembayaran jasa perawatan kesehatan itu. ”Dari mana rumah sakit menggelembungkan jumlah pasien Covid,” kata dr Atok, kembali.

Dokter spesialis paru itu meneruskan, pihaknya juga telah mengumpulkan 11 RS rujukan Covid-19 yang ada di Kabupaten Sidoarjo, yang isunya ada 3 RS yang mendapat teguran dari Dinkes Kabupaten Sidoarjo, terkait isu penggelembungan pasien tersebut. Ternyata isu itu tidak pernah diterima oleh 3 RS rujukan Covid.

“Semua tuduhan itu, telah melukai perjuangan kami, yang selama ini telah merawat ratusan pasien Covid, bahkan para tenaga kesehatan juga menjadi korban Covid, mereka yang membuat isu itu bisa kualat, sebab Allah tidak tidur,” kata pria yang pernah mendapat penghargaan dari Kemenpan RI sebagai ASN teladan tingkat Nasional itu.

[Selengkapnya di Harian Bhirawa]