Jembatan Sesek di Ponorogo Viral di Medsos, Habiskan APBD Rp 200 Juta

117

Warga Ponorogo digegerkan dengan viralnya di media sosial jembatan bambu yang dibangun menggunakan APBD sebesar Rp 200 juta.

Warganet heran dengan anggaran yang sebegitu besarnya namun pembangunan jembatan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Saat TribunJatim Network mendatangi lokasi di Desa Bulak, Kecamatan Balong, terpampang papan keterangan proyek yang menyebutkan anggaran pembangunan Jembatan Tukung dengan nilai Rp 199.659.000.

Dari pandangan mata, nampak memang ada pembangunan pondasi jembatan di kedua sisi sungai.

Namun, jembatan di atasnya masih menggunakan bambu atau sesek.

Salah seorang pengguna jalan, Damiran mengatakan jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan antara Desa Bulak dan Desa Pandak. Sehingga lalu lintas di jalan tersebut bisa dibilang cukup ramai jika dibandingkan ruas jalan yang lain.

“Dulu cor tapi setelah dibangun ini malah jadi sesek,” ucap Damiran, Kamis (17/12).

Menurut keterangan Damiran, sebelum dibongkar dulunya jembatan tersebut bisa dilewati oleh truk. Namun saat ini jika ada dua sepeda motor yang hendak menyeberang dari arah yang berlawanan, maka salah satu harus mengalah terlebih dahulu.

Kepala Desa Bulak Arina Musrifah mengatakan, jalan tersebut merupakan jalan kabupaten dan merupakan kewenangan kabupaten untuk memperbaikinya. “Ada dana (dari Pemkab) sekitar Rp 200 juta dan memang hanya untuk (pembangunan) pondasi saja,” ucap Arini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Ponorogo Jamus Kunto menjelaskan, proyek pembangunan tersebut berawal dari usulan Pemerintah Desa Bulak untuk merehabilitasi jembatan tersebut.

Saat dihitung anggaran yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 500 juta hingga Rp 600 juta untuk lebar maksimal 3 meter.

“Bappeda bilang adanya anggaran 200 juta, kata Lurah (Kades) tidak apa-apa dibangun saja pondasinya dulu, nanti 2021 dilanjut lagi untuk struktur utamanya,” ucap Jamus.

Pembangunan pun dilakukan dengan anggaran senilai Rp 200 juta. Setelah pondasi jadi, masyarakat berinisiatif untuk membangun jembatan darurat dari bambu daripada harus memutar lebih jauh.

“Jadi mereka patungan untuk membuat jembatan bambu tersebut. Jadi kita tidak terkait dengan pembuatan jembatan sesek bambu itu,” lanjutnya.

[Selengkapnya di Harian Pagi Surya]